Meooong

9U-1PKi2

Kucing itu sudah pergi. Maka aku memasuki rimba pikiranku dan sesuatu melukaiku di sana. Aku pun bergegas pergi. Lari. Menyelamatkan diri. Meninggalkan ceceran darah dan tak pernah mau kembali lagi,” jawabnya.

Seseorang telah bertanya kepada laki-laki yang kesakitan dan pucat itu dan kita tak mengetahui pertanyaannya.

Namun, yang tak kumengerti adalah bagian ini. Sementara kau sibuk meladeni aku memikirkan pertanyaan itu, orang-orang telah bersepakat menamai pikiran mereka yang tergesa-gesa itu sebagai jawaban, bahkan sebelum kita sempat menemukan apa pertanyaannya.

Hidup telah dipadati sedemikian rupa dengan jawaban-jawaban yang tak mempunyai pertanyaan. Dan kejahatan paling mengerikan yang kuketahui bermula dari keinginan untuk memberikan jawaban kepada orang yang tak boleh bertanya.

Barangkali lebih susah mendirikan tanda tanya daripada sebuah negara atau rumah tangga.

* * *

Latanenite

“Padaku ada pikiran, lengan, tenaga dan waktu, juga potongan-potongan kangkung dan harapan yang mungkin akan kita butuhkan untuk menciptakan kembali cinta yang dicabik-cabik dengan par

Dari tanah dan laut, negri-negri di pesisir dan gunung-gunung tinggi, kau dan aku datang dengan seluruh raga. Dengan mata yang telah mengenali garang wajah parang. Dengan hati yang telah belajar menjilati luka dan mengerti arti perang yang tak lain adalah menang sama kalah, rubuh dan patah, arang dan abu, tanpa meninggalkan apa-apa. Cuma lagu-lagu yang di dalamnya kita menangisi diri sendiri.

Akan tetapi dari semua yang sudah berlalu, sibu-sibu menyeret layar kita begitu jauh dari rumah dan ibu, demi sebuah rumah lain di masa depan, yang kita bayangkan lebih baik dari hari kemarin. Hidup adalah hari ini. Sementara, pada hari ini pun satu ziarah mengantar kita kembali ke masa lalu; mengikuti nyala obor, jiwa yang jumawa, dan kaki-kaki yang menaiki puncak Saniri untuk memandang betapa perjuangan itu adalah samudra yang seolah tak berbatas, mendidih, dan kita seperti terlahir hanya untuk mengarunginya.

Maka demi ina yang mengalirkan susu dan ama yang membelah lautan, cinta anak-anak pulau adalah putih tulang di tanah rantau dan rindu pulang yang selalu ingin kita ulang. Demikianlah kau dan aku ada di sini, mencurahkan seluruh tenaga dan waktu di bangku-bangku dan buku-buku yang suntuk, hanya supaya bisa lekas-lekas kembali menyusuri gang dan wajah-wajah yang bersahabat, menumpangi angkot-angkot yang dulu pernah mengantar kita ke sekolah, atau berlari-lari sambil tertawa menuju pantai-pantai di mana kau dan aku bisa tidur seharian, menyenangi waktu-waktu dan warna-warna yang mengantar siang kepada malam, cahaya kepada kelam, pelaut-pelaut kepada asin garam, tanpa pernah bertanya, “Bagaimana semua kesenangan ini diraih? Atau dengan apa? Dengan apa kebebasan untuk bermain dan belajar, bekerja dan melepas lelah, bernapas dan bercinta: merayakan hidup sebagai manusia merdeka, dengan apa semua itu pernah ditukar?”

Kita sering lupa dan alpa.

Kemalasan merayu dengan halus namun gigih. Jari-jari manusia telah menjadi seumpama mesin-mesin yang tak boleh berhenti dari menekan tombol-tobol digital untuk sekedar parkir di halaman-halaman buku atau menjabat tangan sahabat. Bibir-bibir manusia seperti lupa pada diam, senang pada bunyi-bunyi manja, haha-hihi, lala-lili, dan dering-dering telpon; bumi manusia kian bising, kian bingung. Sementara itu kata-kata juga berita yang kita harap dapat membawa kesejukan telah menjadi sebenar-benarnya peluru yang menumbus dan bikin koyak kain gandong. Manusia menyeret agama-agama dengan kekuatan nafsu paling purba: ingin benar sendiri, ingin menang sendiri, ingin tinggal di bumi ini sendiri, dan ingin naik ke langit itu sendiri. Padahal langit mengartikan hidup sebagai pelangi dan bumi menghamparkan taman sari berisi rupa-rupa bunga, warna-warni manusia dari mana-mana tanah, bangsa, dan bahasa.

Manusia sering lupa. Kita memang sering lupa dan alpa.

Tetapi, demi latane yang setia menumbuhkan benih dan lanite yang memberi matahari, Pattimura, Christina Martha, dan Said Parintah telah menjadi heka. Biji mata yang rela kehilangan cahaya supaya kau dan aku dapat menatap wajah kebebasan. Hidup, sesungguhnya, adalah memberi napas kepada kebaikan, supaya ia memenuhi udara dan menjadi semesta di mana ale deng beta adalah leka; perahu-perahu yang dilepas ke laut untuk melayari gelombangnya masing-masing, kesunyiannya sendiri-sendiri, sambil tetap mengingat, si ambamuwe nunu jela lehu: kita semua datang dari satu rahim bernama kehidupan yang kita puja sebagai Maluku.

Heka leka, heka hiti. Jaga latane, horomate lanite – dan tumbuhlah sama-sama, tinggi-tinggi. Lawamena!

______
(Dibacakan pada Perayaan 200 Tahun Pattimura di Salatiga, 21 Mei 2017)

Meoong

qoPQhcp7.jpg large

Apa saja yang terletak di antara kau dan aku, tulang ikan atau remah-remah roti dan pemberian, itu bisa berarti kebaikan atau sebuah jebakan.” Ia memicingkan mata dan meluruskan ekornya. Aku tahu itu sebuah ekspresi dari daya tahan terhadap bujukan keinginan.

Sayang kalau tidak dimakan.” Aku menarik badanku kembali dan menatap matanya. “Andai saja aku punya sesuatu, selain dugaan-dugaanmu itu. Sesuatu yang kau inginkan sekaligus yang tak bisa kau lumuri dengan dugaan.

Makanan apa pun tak pernah terbuang percuma.” Kali ini, ia terlihat tenang. Walau sesekali masih melirik remah-remah roti di antara kami.

Waktu akan memakan segalanya, kecuali kebaikan,” ujarnya.

Mungkin karena terlalu manis. Ini hanya dugaanku saja. Waktu selalu tepat dan tak pernah menduga-duga.” Ia berkata begitu sambil mengangkat badannya.

Belum sempat tuntas kurenungkan, kucing itu sudah bergerak mengitariku dengan tatapan penuh selidik. “Manusia memang sebuah perangkap,” ketusnya lalu pergi.

* * *

Meong

C-Qouv4VwAAkooG.jpg large

Setengah berapi-apa, ia berkata, “Surga dan neraka tidak lagi ditentukan oleh agama. Tetapi oleh pilihan dalam Pemilukada yang bersifat bebas dan rahasia. Ini sebuah kemajuan!”

Tanpa sadar, keningku berkerut-kerut. Dengan gesit dan anggun ia meletakkan ekornya yang semenjak tadi bergoyang-goyang itu ke lantai bersama pantatnya, menatap lurus ke arahku, dan berujar dengan nada yakin dan senang.

“Artinya, klaim keselamatan oleh agama-agama telah diruntuhkan. Akhirnya, kau bebas dari cengkeraman agama.”

Usai berkata demikian, kucing itu meletakkan kepala di atas dua kakinya dan menunggu. Tikus macam apa yang akan keluar dari mulutku.

* * *

cinta (dan) kau — juga rahasia

cintakau

Cinta adalah sejauh yang dapat manusia bayangkan tentang kehidupan. Cinta adalah sedekat yang dapat dijumpai tanganmu untuk dikerjakan. Mencintai adalah perbuatan gila. Mencintai tak dapat dinalar oleh rasio politik-ekonomi, menang-menangan dan untung-untungan. Sebab cinta memberi, bukan mengambil atau menguasai, atau kedua-duanya. Cinta adalah kegilaan dan kau adalah satu kegilaan yang benar-benar gila. Kau adalah cinta.

Semua ajaib. Tidak ada cinta yang biasa. Apa yang ada hanyalah cinta yang lain yang, menurutku, telah kau biarkan berhenti bertumbuh. Cinta sepasang kekasih adalah dua bunga yang bertumbuh, menebar benih dan menciptakan kebun bunga. Mereka adalah leluhur sebuah taman. Cinta adalah kekalahan paling manis. Sebuah perayaan rasa. Sakit yang mendingan. Menang yang kalah. Kalah yang menang. Kau dikalahkan oleh kekuatanmu sendiri. Dan kau bahagia melakukannya, lagi dan lagi. Setiap kali. Setiap hari. Kau menginginkan semuanya dalam satu helaan napas, tetapi kekayaan cinta tak pernah habis dan mengenyangkan. Dari mencintai dan dicintai, kau telah belajar berlari dan membiarkan dirimu terbang, berpindah dari satu musim ke lain musim, tanpa merasa terpaksa.

Namun, barangkali kau juga pernah patah. Satu kali, dua kali. Dunia mematahkan sesuatu di dalam dirimu. Sementara kau tak mau percaya bahwa jika hati bisa menjadi luka dan hati juga bisa menjadi obat. Bila di hati ada luka, di situ – dan bukan di tempat lain – kau akan menemukan obatnya. Hati hanya bisa disembuhkan oleh hati, hatimu. Dengan hatimu kau akan mulai lagi untuk mencintai, pertama-tama mencintai hatimu yang patah. Mencintai itu menyembuhkan. Hati yang patah karena mencintai, hanya bisa sembuh dengan mencintai. Mulailah dengan mencintai hatimu.

Hidup, dalam beberapa bagiannya, memang sulit. Namun, untuk apa kau bagun pagi-pagi hanya untuk menyerah pada malamnya. Manusia memiliki kekuatan yang tak terbayangkan, kata ibuku. Bila kau berjalan pelan-pelan dan mendengar baik-baik. Cinta bicara dalam banyak bahasa dan cara. Metafora-metafora dan segala sesuatu yang berkata tentang sesuatu yang sama sekali lain. Terutama bila itu tulus.

Selamat pagi! Selamat sore!  Selamat malam!  Selamat tidur!

Sudah makan?  Jangan lupa minum air putih yang banyak!

Aku bisa bantu apa? Belum dapat bukunya? Aku punya dua!

Bicaralah! Aku mau mendengar. Aku tahu. Aku mengerti.

Dan kau masih saja bilang, tidak ada cinta. Tidak ada cinta sejati. Kepunahan rasa sedang merambati jalan-jalan yang kau lewati dan kau, kau membiarkannya begitu saja. Tidak perduli. Muak. Benci. Sementara pada saat yang sama, kau, entah bagaimana, masih mencintai hidupmu. Kau mencintai hidup bukan karena hidupmu, tetapi karena kau memang butuh dan ingin mencintai, apa pun itu. Keberanian paling besar dari yang pernah dimiliki semua manusia sementara kau lakukan: mencintai.

Dan dari semua yang telah ditulis ini, aku mencintai beberapa kata. Terutama setiap kali aku menulis: cinta (dan) kaujuga rahasia. Biarkan aku menjadi nyanyian-nyanyian kamar mandi, foto-foto kamar mandi, dan pikiran-pikiran paling liar yang hanya kau simpan untuk dirimu sendiri, juga ciuman yang tak seorang pun dari kita pernah melihatnya, kecuali lebur napas dan mata kita yang terpejam.

* * *