cinta (dan) kau — juga rahasia

cintakau

Cinta adalah sejauh yang dapat manusia bayangkan tentang kehidupan. Cinta adalah sedekat yang dapat dijumpai tanganmu untuk dikerjakan. Mencintai adalah perbuatan gila. Mencintai tak dapat dinalar oleh rasio politik-ekonomi, menang-menangan dan untung-untungan. Sebab cinta memberi, bukan mengambil atau menguasai, atau kedua-duanya. Cinta adalah kegilaan dan kau adalah satu kegilaan yang benar-benar gila. Kau adalah cinta.

Semua ajaib. Tidak ada cinta yang biasa. Apa yang ada hanyalah cinta yang lain yang, menurutku, telah kau biarkan berhenti bertumbuh. Cinta sepasang kekasih adalah dua bunga yang bertumbuh, menebar benih dan menciptakan kebun bunga. Mereka adalah leluhur sebuah taman. Cinta adalah kekalahan paling manis. Sebuah perayaan rasa. Sakit yang mendingan. Menang yang kalah. Kalah yang menang. Kau dikalahkan oleh kekuatanmu sendiri. Dan kau bahagia melakukannya, lagi dan lagi. Setiap kali. Setiap hari. Kau menginginkan semuanya dalam satu helaan napas, tetapi kekayaan cinta tak pernah habis dan mengenyangkan. Dari mencintai dan dicintai, kau telah belajar berlari dan membiarkan dirimu terbang, berpindah dari satu musim ke lain musim, tanpa merasa terpaksa.

Namun, barangkali kau juga pernah patah. Satu kali, dua kali. Dunia mematahkan sesuatu di dalam dirimu. Sementara kau tak mau percaya bahwa jika hati bisa menjadi luka dan hati juga bisa menjadi obat. Bila di hati ada luka, di situ – dan bukan di tempat lain – kau akan menemukan obatnya. Hati hanya bisa disembuhkan oleh hati, hatimu. Dengan hatimu kau akan mulai lagi untuk mencintai, pertama-tama mencintai hatimu yang patah. Mencintai itu menyembuhkan. Hati yang patah karena mencintai, hanya bisa sembuh dengan mencintai. Mulailah dengan mencintai hatimu.

Hidup, dalam beberapa bagiannya, memang sulit. Namun, untuk apa kau bagun pagi-pagi hanya untuk menyerah pada malamnya. Manusia memiliki kekuatan yang tak terbayangkan, kata ibuku. Bila kau berjalan pelan-pelan dan mendengar baik-baik. Cinta bicara dalam banyak bahasa dan cara. Metafora-metafora dan segala sesuatu yang berkata tentang sesuatu yang sama sekali lain. Terutama bila itu tulus.

Selamat pagi! Selamat sore!  Selamat malam!  Selamat tidur!

Sudah makan?  Jangan lupa minum air putih yang banyak!

Aku bisa bantu apa? Belum dapat bukunya? Aku punya dua!

Bicaralah! Aku mau mendengar. Aku tahu. Aku mengerti.

Dan kau masih saja bilang, tidak ada cinta. Tidak ada cinta sejati. Kepunahan rasa sedang merambati jalan-jalan yang kau lewati dan kau, kau membiarkannya begitu saja. Tidak perduli. Muak. Benci. Sementara pada saat yang sama, kau, entah bagaimana, masih mencintai hidupmu. Kau mencintai hidup bukan karena hidupmu, tetapi karena kau memang butuh dan ingin mencintai, apa pun itu. Keberanian paling besar dari yang pernah dimiliki semua manusia sementara kau lakukan: mencintai.

Dan dari semua yang telah ditulis ini, aku mencintai beberapa kata. Terutama setiap kali aku menulis: cinta (dan) kaujuga rahasia. Biarkan aku menjadi nyanyian-nyanyian kamar mandi, foto-foto kamar mandi, dan pikiran-pikiran paling liar yang hanya kau simpan untuk dirimu sendiri, juga ciuman yang tak seorang pun dari kita pernah melihatnya, kecuali lebur napas dan mata kita yang terpejam.

* * *

matakaki

matakaki

kau namakan apa
usaha-usaha memotong
kaki gunung dan membutakan
mata air, pembangunan?

tuhan mana lagi
yang telah membaptis
perusahaan dan kekuasaan
dengan nama kebenaran?

nama apa akan kau beri
kepada kaki-kaki terpasung
milik petani, perempuan
dan laki, boneka? rekayasa?

lidah iblis mana lagi
yang telah menerjemahkan
kemiskinan sebagai kebenaran
yang tidak lebih benar dari kesalahan?

kaki-kaki yang terpasung
berhenti adalah gerakan
diam adalah melawan
kuat seperti gunung

* * *

Nanaku

Nanaku

untuk waktu yang lama
aku bersembunyi di balik mataku
sebuah pintu yang curiga, tertutup,
dan penuh candaan: dilarang masuk

berapa lama waktu yang diperlukan
untuk menciptakan sebuah senyuman,
satu matahari yang benar-benar milikku
sebulan, setahun, atau seperti selamanya?

keluar membawa kesendirian dan keterasinganku
aku ingat pernah tinggal di satu semesta, sebuah kota,
rumah, kursi panjang dengan sandaran yang hangat,
juga nyala dari api yang tak kutemukan lagi, lalu kini

matamu, sebuah pintu lain
yang terbuka dan memanggil
aku merasa telah menemukan jawaban
bagi pertanyaan tentang senyuman itu

jatuh cinta atau jatuh untuk cinta, lagi?

bila ada buku untuk membedakannya
akan aku belikan satu untuk diriku
dan tak pernah membukanya
sebab kau tahu mengapa

* * *

Teun

Teun (2)

Telah dimekarkannya bunga-bunga ombak di padang gelombang; kehidupan yang cair, berkilauan, dan lapang. Pekat dan tak dapat diterawang. Seperti masa depan dan hari ini, terlalu berbeda dan terlalu mirip kita. Laut dan langit, air dan udara, sunyi dan bunyi, mataku dan matamu.

Segugus bintang pari merenangi cakrawala, melintasi abad, bunga, dan batu-batu, melihat waktu mengajari manusia untuk membuat langkah pertama dan untuk berhenti pada waktunya. Bumi menimbun lubang-lubang bom yang dijatuhkan ke dadanya, seperti maaf menciptakan danau dari air mata dan lubang-lubang di jiwa.

Muda, kasar, tumpul, ceroboh sekaligus penuh tenaga; kebinasaan macam apa yang dapat kita ciptakan dari itu semua, sebelum kita menjadi seorang nelayan tua. Duduk dan bercerita tentang lautan-lautan yang memberkati kita, tidak hanya dengan ikan-ikan dan pengalaman, tetapi dengan sebuah kehidupan yang tak dapat kita ulang.

Seperti rumah dan kepergian orang-orang tercinta, hidup mengisi dirinya dengan banyak akhir dan perpisahan. Tetapi ada sesuatu yang mungkin tak dapat dipisahkannya dari dirinya: cinta. Hanya di dalam mencintai kita dapat bicara tentang hidup dan hanya dengan hidup, aku dapat berkata tentang cinta, tentang pinggulmu.

* * *

Pagi-pagi

pagi (2)

pagi ini
engkau
menutup mata
menyaksikan dunia
dari jarak tertentu
bagai dari bangku
di bioskop

pagi ini
engkau
menutup mulut
untuk mendengar
harapan tersembunyi
diucapkan seseorang
di dalam dirimu

pagi ini
engkau
menghidupkan
di dalam dirimu
semua hening semesta;
waktu, cahaya, doa,
tunas, cinta,
embun

jatuh.

sudah terlalu banyak
bising dan buru-buru

* * *