Membaca Alkitab dengan Mata Cemas dan Rindu

01/
Kaulah manusia pertama
dan akulah semua pohon dan hewan
yang kauberi nama.

02/
Kau gigit aku di ranum buah yang kuberi padamu.
Manis, semanis-manisnya kebebasan
Perih, seperih-perihnya tanggung jawab.

03/
Kau dan aku belajar menyulam selubung
dari daun-daun dan kulit kayu dan kulit ternak
untuk menutupi apa?

04/
Cela, katamu.
Masing-masing cela
pasti punya celana sendiri-sendiri

05/
Aku ingin menjadi bahtera
dan hanya kau yang di dalam aku
pada waktu hujan mengubur semesta.

06/
Ada tangan-tangan kotor yang ngotot
memasang filter monokrom ke atas pelangi
yang membusur dari Papua sampai ke Aceh.

07/
Kebaikanmu adalah lumbung penuh makanan,
ke mana aku menyingkir meluputkan diri
dari tahun-tahun sepi yang lapar.

08/
Pada malam, akulah mimpi-mimpi
dan hanya dirimu seorang yang sanggup
mengartikannya.

09/
Takdir manusia yang hidup dari tanah
tetapi yang tak lagi mempunyai tanah:
perbudakan, perbudakan, perbudakan.

10/
Aku percaya, cinta membebaskan,
tetapi aku tak percaya kepada tuhan
yang membunuh anak-anak sulung.

11/
Terbelah seperti laut, hatiku
dan kau adalah manusia pertama
dan terakhir yang menjejakinya.

12/
Dadamu adalah tanah yang dijanjikan itu.
Sebuah negeri yang berlimpah susu dan madu,
sedang aku hanya sepasang mata sang nabi.

13/
Harus berapa kali kau kudatangi,
supaya luruh seluruh tembok prasangka
di antara tatap mata kita

14/
Dari padang-padang musim kering
telah kaugembalakan rinduku
menuju bibir telagamu.

15/
Kegilaan-kegilaan di dalam diriku
bersimpuh pada petikan-petikan kecapi
dari jari-jari tanganmu.

16/
Adakah yang harus disingkirkan,
karena tak mau menjual kebun cengkih
peninggalan leluhurnya?

17/
Kebesaran-kebesaran memudar,
kerajaan-kerajaan berlalu,
kebaikan-kebaikan tetap tinggal.

18/
Rindu adalah kota-kota Asyur yang masyur,
ke sana aku telah terbuang jauh, begitu jauh
dari kampung kecil yang memeluk tidurku.

19/
Kesepian bagai gua
penuh aum dan taring singa.
Kau di sana berdoa untukku.

20/
Matamu adalah nyala bintang
yang menuntun kepulanganku
ke palunganmu.

21/
Dan seperti anak yang hilang
aku kembali ke pelukanmu
—sebuah pesta tersedia bagiku.

22/
Sebuah kota digasak tsunami.
Ahli-ahli taurat bilang, mereka berdosa.
Orang Samaria menggalang bantuan.

23/
Dari sagu satu lempeng
yang kaupatah bagi siwa atau lima
kupercaya mujizat masih ada.

24/
Aku tenang. Semua gelombang
dan badai yang kubawa berlayar
mengenali suaramu.

25/
Ke dalam sebuah taman di rangkulanmu,
aku mau menepi dari semua ketergesaan
untuk berdoa di antara leher dan pundakmu.

26/
Ciuman mengubah banyak hal
—termasuk takdirmu.
Hati-hati!

27/
Jual saja hasil panen cengkih dan pala.
Tukar tambah pula ponselmu yang lama,
tetapi jangan jual sahabatmu, baru pun lama.

28/
Penjahat dan perampok berkeliaran di televisi.
Orang-orang baik mendekam di kamar-kamar besi.
Mata Dewi Keadilan boleh dibebat, mata hati jangan.

29/
Seperti tubuh Kristus
kepada paku dan tombak, hatimu
menyambut cintaku yang rapuh.

30/
Cinta yang utuh tegak pada salib di bukit itu.
Separuh kau dan separuh aku harus mati di situ
supaya hidup kembali sebagai kita.

31/
Tuhan adalah cinta.
Bertuhan adalah mencintai.
Beragama adalah memeluk.

32/
Pergilah. Baptiskanlah mereka
dengan air segar untuk terik kebencian,
dengan teh manis hangat untuk gigil kecurigaan.

33/
Kini, di kota-kota yang sesak dengan kebohongan,
aku merindukan lagi sebuah taman yang dulu
berisi ketelanjangan kita.

Salatiga, 18 November 2018
Iklan

XIX

Masa kecilku adalah ketelanjangan laut dan bulu garam yang sederhana. Setiap hari, kutandai petang dan pagi dengan girang kanak-kanak yang berlari menyongsong laut. Badan mereka yang liat dipeluk basah gelombang.

Tahun-tahun seperti daun-daun kayu putih yang tumbuh, merimbun, lalu jatuh ke dalam tong besi di atas tungku suling. Hangat dan harum minyak yang mengalir mengikuti kapal-kapal untuk memeluk badanmu.

Panas matahari mematangkan kulit gadis-gadis di kampung tetangga. Coklat dan menawan. Tunas-tunas ilalang bangkit dari abu dan menjadikan aku gembala atas gairahku sendiri.

Pantai dan santai. Tak ada yang tertarik pada arloji. Sebab detak-detik seperti dibuat mabuk oleh tengah hari masa muda yang dihabiskan badan-badan bujang di bawah sombar ketapang juga di antara cerita-cerita tentang laut idaman yang rindu kita layari.

Perahu-perahu itu diseret angin, sementara aku terombang-ambing di antara matamu dan mata malam: rindu masa remaja yang susah tidur. Namun, aku tenggelam jua ke dalam tumpahan mimpi.

Seseorang telah melempar api ke unggunan puisi ini. Lalu semuanya berkobar. Pendapatku tentang cinta disanggah dengan parang dan dogma; benda-benda yang diciptakan dari kerapuhan manusia. Layar perahu ayahku koyak-moyak bersama jiwaku.

Seperti bayi-bayi ke dalam dunia yang tak ia kenali, luka terlahir merah-merah dan ditandai tangis, api, beton, dan besi. Semua bahasa gelap dari lidah manusia yang menggusur padang ilalang dan pohon-pohon kayu putih itu.

Hujan dan waktu dapat mengubah lubang-lubang bom dari abad yang sudah lewat menjadi telaga. Sapi-sapi itu minum dan berpuas diri pada siang-siang yang terik, sementara aku dipeluk sepi di tepiannya.

Waktu memang bukan tangan terampil yang dapat diandalkan untuk menjahit teks yang patah. Manusia diajari oleh dirinya sendiri untuk merawat dendam, tetapi aku masih percaya pada cinta, pada puisi.

Ambon, 15 April 2016

Mahaya

Ibu mengisi gendongannya dengan bah
dan membuat bahu bagi kapal dan perahu;
bunga tanjung hanyut di dadanya, putih
lalosi, silapa, dan lema menjadi nama-nama
bagi tawa di sekitar meja dan api.

Ia membungkus rawa dengan nipah,
memelihara mata air dengan mata sagu,
dan memberi upah untuk petani; buah dan buih,
terik dan hujan yang bakat jadi hitam di tanah
ungu di biji gandaria, merah di berang dan fuli.

Ibu menggantung angin di kaki kain,
mengatur urat gunung dan arah reranting,
dan mengajari kotika menyusun sarang.
Ia memeteraikan kedua kakiku dengan angin
untuk pergi dan dengan ombak untuk pulang.

Nusanive, 11 September 2018

Hena

Untuk saat ini, tak ada pemandangan yang lebih melegakan daripada menyaksikan kelasi-kelasi melepas tali dari tiang-tiang dermaga, dan kini di belakangku, Tanjung Allang dan Latuhalat bagai sepeluk lengan yang dilonggarkan untuk melepas pergi diriku menuju dirimu. Belum pernah sebuah tujuan membuatku sebegini riang dan senang.

Dari kota-kota yang kusinggahi sepanjang rantauku telah kuperoleh, dengan usahaku sendiri, keterampilan-keterampilan yang semuanya akan kuabdikan untuk memperbaiki apa saja yang dirusak oleh waktu. Ingatanmu, ingatanku, ingatan kita pada bagaimana rasanya dijamah oleh jari-jari yang kita rindukan, jari-jari yang menulis puisi di permukaan kulit kita yang sepi.

Dengan semua kata telah kulatih lidahku untuk menceritakan perjalananku. Hal-hal yang berarti bagiku, rahasia-rahasia yang memulangkan aku kepada cinta, kepada kampung, kepadamu. Segala yang sempat atau tak sempat kucatat akan menjadi buku yang kuingin kau memilikinya. Sebab bila hari-hari hidup anak manusia harus diumpakan dengan sebuah buku, maka seluruh arti hidupku dapat tersimpul pada senyummu.

Tak kuhitung berapa banyak detik berlalu di antara kata dan diam yang kita bagi bersama hawa dingin dari lembah-lembah bersungai. Tak mungkin pula muncul pikiran untuk mengerjakan apa-apa, sebab malam telah seumpama kapal menjelang karam dan satu-satunya keselamatan yang tersedia bagi kita adalah saling berpelukan.

Takkan kujanjikan selamanya, tetapi kau kucintai sampai kemiskinan dan perampasan yang memaksa kita meninggalkan tanah ini tak lagi kuratapi di dalam puisi.

Salatiga, 27 Juli 2018

Puisi Tanah

Kau berhak lupa diri saat jatuh cinta.
Anak-anak manusia datang dari cinta,
mereka bercinta dan memudar di dalamnya.
Kau merdeka menjejali dirimu
dengan sejumlah khayal dan ilusi tentang
hidup yang selama-lamanya bahagia.
Kau boleh memperuntukkan waktumu,
tenagamu, uangmu, demi menjadi tawa
yang memisahkan anak-anak manusia
dari binatang-binatang di padang dan rimba.
Kau berhak lupa diri saat jatuh cinta,
tetapi jangan sekali-kali kaulupakan tanah
yang di atasnya langkah pertamamu lahir
dan, yang semenjak itu, tak pernah sekali pun
meninggalkan kakimu, cinta pertamanya.

Tanah adalah cinta yang lain,
yang menyambut dan memeluk tanpa bertanya:
siapa ayahmu, apa suku bangsamu, apa agamamu.
Tetapi di atas tanah yang dermawan itu
kerakusan melepaskan amuk mesin-mesinnya.
Hari-hari gelap seperti tanaman bertali-tali
yang merambati pagarmu, mematikan semua bunga
yang kaurawat di pekaranganmu. Kau boleh lupa,
tetapi kau tak bisa lari. Kehidupan menggedor-gedor
pintumu, meminta cintamu.

Kaki-kaki kecil,
seperti yang pernah kaumiliki,
takkan lagi nanti mempunyai tanah
untuk membuat langkah pertama mereka.
Dan kehidupan seolah-olah hanya berisi
penolakan demi penolakan, penggusuran
demi penggusuran, pengungsian
demi pengungsian.

Kau masih berhak lupa diri saat jatuh cinta,
tetapi kau tak berhak melupakan tanah
dan hak semua kaki kecil untuk membuat
langkah pertama mereka di atas tanah itu.
Hak mereka untuk dicintai dan mencintai
tanah itu dengan cinta yang lebih besar
dari diri mereka sendiri.

Cinta kepada hidup yang terkepung mesin-mesin, seperti
pernah ditunjukkan di pesisir Marosi dan di mana-mana,
adalah titik yang dicantumkan dengan dua kaki,
yang tak bergeming dan takkan pernah beranjak
dari tanah—cinta pertama dan penghabisan.

WJ / Salatiga, 30 April 2018