Kopi Kangen

Kubalas pesan rindumu persis saat pohon-pohon kopi
di pulau Seram mengeluarkan bunga yang pertama.
Dan semenjak hari itu, semua berlangsung sama.
Kau menelepon, aku menelepon;
selamat pagiku dan selamat pagimu
terucap bersama daun-daun jendela yang terbuka
dan menemani bunga-bunga kopi itu
kala bumi pada satu hari yang telah lama ditentukan,
akhirnya memberi mereka isi, menjadikan mereka buah
dan puisi yang ditulis jari-jari petani
untuk diserahkan ke mana-mana:
ke rumah-rumah kopi, lalu diremukkan
bersama keinginan-keinginan kita yang tertunda,
supaya nanti teraduk bersama semua rasa
yang menemani kita menyesap aroma pertemuan
di entah meja nomor berapa.

WJ / Ambon, 16 Desember 2017
Iklan

Rindu Kamu

Aku telah menjadi tua
pada seperdua jalan menujumu.
Namun, ketika kuhitung mundur
waktu-waktu untuk tiba di kotamu,
api kemudaan perlahan-lahan menyala
seperti tungku di dadaku.
Tinggal satu jam lagi
dan aku seperti mahasiswa semester akhir
yang dapat tanda tangan pembimbing skripsi.
Dua menit lagi tiba
dan aku seperti mahasiswa semester awal,
penuh semangat dan idealisme
yang semuanya beku pada tiga detik pertama
di hadapan tatapmu yang intimidatif.
Sesuatu merenggut kata-kata dari lidahku
dan aku seumpama anak SMA yang terlalu sering bolos
pada jam pelajaran bahasa Indonesia dan matematika.
Maka, tanpa perhitungan,
kucium saja dagumu dengan ciuman yang remaja.
Rindu memang lebih luas dari satu atau dua mata pelajaran.
Ia tak selalu sempurna bila cuma dibahasakan atau dihitung,
dan aku beruntung, pernah begitu menggemari pendidikan jasmani,
terutama saat-saat pemanasan.

WJ / Gunung Mimpi - Ambon, 18 Desember 2017

Rindu Gunung

Rindu yang kau dan aku ciptakan
dari tumpukan jarum jam yang patah
telah menjadi gunung-gunung
yang tinggi.
Seumpama nanti, akhir bulan ini,
ada tanggal-tanggal merah
untuk rindu kita yang saga,
aku akan melepas diri
dari rantai-rantai di kaki meja ini,
mengajak kau mendaki dan,
seperti bendera kemenangan,
kaki-kaki akan kita tancapkan
di puncaknya.
Kasih, bila tahun ini ada libur panjang,
aku mau jadi kemah dan tungku
di badanmu yang gunung.

WJ / Ambon, 16 Desember 2017

Rindu Laut

Seperti ada yang sengaja melepas baterai
dari jam yang tergantung di dinding malam.
Rindu ini membadai, sayang
dan waktu bagai pesawat-pesawat
yang menunda keberangkatan.
Setiap kali, bila kuraba di dekapanku,
permukaan halus selimut tua ini
atau seprei yang baru diganti ini,
atau bila aku mengindra dengan tubuhku
bulu lembut pada sarung bantal di bawah pipiku
atau bantal guling di dada dan di pangkal paha,
semuanya seolah menghanyutkan aku
ke atas tubuhmu yang laut.

WJ / Ambon, 16 Desember 2017

Hari-Hari Yang Dengannya Kau Berlari

Subuh itu mama mengeringkan seragam sekolah kita dengan kompor. Digantungnya kemeja, rok, dan celana itu tinggi-tinggi, dijaganya hingga kering, lalu disetrika. Dan kita akhirnya bisa berangkat ke sekolah dengan seragam yang bersih dan harum. Bergerak menembusi udara pagi yang dingin sambil berusaha untuk sedapat mungkin menghindarkan kaos kaki dan sepatu dari cipratan air hujan, setelah sebelumnya mengalahkan keengganan dan menyesap teh manis panas dan roti buatan tangannya.

Beberapa malam yang belum lama lewat, kita bicara tentang mama. Bagaimana ia mengatur belanja sehingga selalu ada santapan lezat untuk rasa lapar yang kita bawa pulang bersama buku-buku pelajaran dari sekolah. Begitu jauh kita dari siang-siang seperti itu. Siang-siang yang berlari teramat buru-buru, seperti kaki-kaki kita ketika bel sekolah dibunyikan pagi-pagi.

Bertahun-tahun lalu, harus kau ajari kaki-kakimu sendiri untuk mengenali jalan-jalan di kota yang semula tak kau kenali. Pergi jauh dari rumah dan semua yang kau sebut cinta. Tahun ini pun tak banyak yang berubah, hanya angka-angka yang dengannya usia kau hitung dan hari-hari yang dengannya kau berlari menuju rumah.

Di sana, kekasihmu menunggu. Di sana, jantung hati kalian. Di sana, semua yang rindu menunggu bagai gunung. Dan semua akan dimulai lagi, pagi-pagi, dengan sesuatu yang sejuk seperti embun atau hangat dan manis seperti sapuan gula cair di permukaan kulit roti panggang buatan mama.

Selamat hari jadi adikku tersayang, Herlin Venny Johannes

WJ / Bandung, 10 Desember 2017