Hena

Untuk saat ini, tak ada pemandangan yang lebih melegakan daripada menyaksikan kelasi-kelasi melepas tali dari tiang-tiang dermaga, dan kini di belakangku, Tanjung Allang dan Latuhalat bagai sepeluk lengan yang dilonggarkan untuk melepas pergi diriku menuju dirimu. Belum pernah sebuah tujuan membuatku sebegini riang dan senang.

Dari kota-kota yang kusinggahi sepanjang rantauku telah kuperoleh, dengan usahaku sendiri, keterampilan-keterampilan yang semuanya akan kuabdikan untuk memperbaiki apa saja yang dirusak oleh waktu. Ingatanmu, ingatanku, ingatan kita pada bagaimana rasanya dijamah oleh jari-jari yang kita rindukan, jari-jari yang menulis puisi di permukaan kulit kita yang sepi.

Dengan semua kata telah kulatih lidahku untuk menceritakan perjalananku. Hal-hal yang berarti bagiku, rahasia-rahasia yang memulangkan aku kepada cinta, kepada kampung, kepadamu. Segala yang sempat atau tak sempat kucatat akan menjadi buku yang kuingin kau memilikinya. Sebab bila hari-hari hidup anak manusia harus diumpakan dengan sebuah buku, maka seluruh arti hidupku dapat tersimpul pada senyummu.

Tak kuhitung berapa banyak detik berlalu di antara kata dan diam yang kita bagi bersama hawa dingin dari lembah-lembah bersungai. Tak mungkin pula muncul pikiran untuk mengerjakan apa-apa, sebab malam telah seumpama kapal menjelang karam dan satu-satunya keselamatan yang tersedia bagi kita adalah saling berpelukan.

Takkan kujanjikan selamanya, tetapi kau kucintai sampai kemiskinan dan perampasan yang memaksa kita meninggalkan tanah ini tak lagi kuratapi di dalam puisi.

Salatiga, 27 Juli 2018
Iklan

Puisi Tanah

Kau berhak lupa diri saat jatuh cinta.
Anak-anak manusia datang dari cinta,
mereka bercinta dan memudar di dalamnya.
Kau merdeka menjejali dirimu
dengan sejumlah khayal dan ilusi tentang
hidup yang selama-lamanya bahagia.
Kau boleh memperuntukkan waktumu,
tenagamu, uangmu, demi menjadi tawa
yang memisahkan anak-anak manusia
dari binatang-binatang di padang dan rimba.
Kau berhak lupa diri saat jatuh cinta,
tetapi jangan sekali-kali kaulupakan tanah
yang di atasnya langkah pertamamu lahir
dan, yang semenjak itu, tak pernah sekali pun
meninggalkan kakimu, cinta pertamanya.

Tanah adalah cinta yang lain,
yang menyambut dan memeluk tanpa bertanya:
siapa ayahmu, apa suku bangsamu, apa agamamu.
Tetapi di atas tanah yang dermawan itu
kerakusan melepaskan amuk mesin-mesinnya.
Hari-hari gelap seperti tanaman bertali-tali
yang merambati pagarmu, mematikan semua bunga
yang kaurawat di pekaranganmu. Kau boleh lupa,
tetapi kau tak bisa lari. Kehidupan menggedor-gedor
pintumu, meminta cintamu.

Kaki-kaki kecil,
seperti yang pernah kaumiliki,
takkan lagi nanti mempunyai tanah
untuk membuat langkah pertama mereka.
Dan kehidupan seolah-olah hanya berisi
penolakan demi penolakan, penggusuran
demi penggusuran, pengungsian
demi pengungsian.

Kau masih berhak lupa diri saat jatuh cinta,
tetapi kau tak berhak melupakan tanah
dan hak semua kaki kecil untuk membuat
langkah pertama mereka di atas tanah itu.
Hak mereka untuk dicintai dan mencintai
tanah itu dengan cinta yang lebih besar
dari diri mereka sendiri.

Cinta kepada hidup yang terkepung mesin-mesin, seperti
pernah ditunjukkan di pesisir Marosi dan di mana-mana,
adalah titik yang dicantumkan dengan dua kaki,
yang tak bergeming dan takkan pernah beranjak
dari tanah—cinta pertama dan penghabisan.

WJ / Salatiga, 30 April 2018

Sebuah Gunung

untuk Ridolof Johannes

Pelarian demi pelarian,
pengungsian demi pengungsian,
kau lihat sendiri, kehidupan itu
telah membentukmu sedemikian
sehingga kaki-kakimu bagai tiang pertama
yang dipancang oleh ayah ketika ia mendirikan rumah.
Ada doa dan nazar yang di atasnya kau kini berdiri.
Janganlah goyah. Janganlah tawar.
Meski kadang tak tuntas jua kaupelajari
bagaimana mencintai tanah yang bukan tanahmu
atau bagaimana merindui masa lalu
yang tak bisa lagi kaudatangi. Berjalanlah maju.
Teruslah mendaki. Sebab ada masa-masa
di mana kehidupan akan menuntun sepasang kakimu
yang laki-laki kepada terjal gunung-gunung
hanya untuk membuatmu mengerti
dan percaya bahwa kau sanggup
menaklukkan semuanya.

WJ / Salatiga, 07 Maret 2018

Mati-mati Gelap

Lagu-lagumu sedih dan akan selalu sedih,
sebab semua yang kaupuja memang indah:
bahasa tanah, lidah ombak, bibir pantai;
Nusa Ama, Nusa Ina, Ambalau, Taliabu,
semua bapa, semua ibu, dan semua anak pulau
yang tulat tubin mungkin cuma babu;
Nunu e, Nunusaku, Nunu Wae Sane,
rimba roboh rata, mata air kering buta;
Batabual, Romang, tanah dati,
dan kerbau-kerbau yang minum merkuri;
siwarima dan rima-rima yang salobar
dari tengkuk dan telukmu yang kian dangkal
dan ikan-ikan yang bunting plastik;
salam-sarane, Yamrene, Bupolo,
bakukele, bakupolo, sembunyi mati hati batu,
menyangkal mati hati sagu
yang masih juga kaubikin jadi lagu,
dan lagu-lagumu indah, lagu-lagumu sekarat.
Sebab seperti mati-mati gelap di pantai Wakasihu,
segala yang menuju sirna, yang nanti binasa dan lalu,
memang ditakdirkan untuk indah,
bernyanyilah kau
—dan mati.

WJ / Salatiga, 09 Maret 2018

Kopi Kangen

Kubalas pesan rindumu persis saat pohon-pohon kopi
di pulau Seram mengeluarkan bunga yang pertama.
Dan semenjak hari itu, semua berlangsung sama.
Kau menelepon, aku menelepon;
selamat pagiku dan selamat pagimu
terucap bersama daun-daun jendela yang terbuka
dan menemani bunga-bunga kopi itu
kala bumi pada satu hari yang telah lama ditentukan,
akhirnya memberi mereka isi, menjadikan mereka buah
dan puisi yang ditulis jari-jari petani
untuk diserahkan ke mana-mana:
ke rumah-rumah kopi, lalu diremukkan
bersama keinginan-keinginan kita yang tertunda,
supaya nanti teraduk bersama semua rasa
yang menemani kita menyesap aroma pertemuan
di entah meja nomor berapa.

WJ / Ambon, 16 Desember 2017