Tawar

semacampuisi (3)
Bahasa tanah dan tarian laut adalah cara cinta menuturkan dirinya. Hening dan amuk, tenggelam dan tumbuh, tinggal dan hanyut, apa adanya. Sebuah bahasa yang tak pernah sempurna, bila harus kujamah dengan lidahku yang terlalu manusia.

Aku, sesekali, tak sanggup untuk bedakan air mata dari mata air, juga pipimu dari tanah basah di Pangala dan Lisela. Dari situ, sungai-sungai pergi menemui laut. Selalu ada muara untuk merundingkan tawar hati dan asin air mata.

Namun, ada saat-saat di mana kecemasan kita tak miliki muara dan lubang udara, sehingga ada satu bagian dari hidup yang tetap keruh dan tak terurai. Cintaku yang kadang tak bisa aku bedakan dari benciku, juga kau yang tercinta dari yang terbenci.

Hati manusia, sejauh yang sanggup kau dan aku pelajari, bisa saja tercekat sengat, lalu kaku dan bisu, seperti paku dan batu, tetapi yang selalu ada di situ. Barangkali untuk sebuah luka lain atau nisan lain bagi sebuah kisah lain yang tak bisa lagi kita cintai, sebab bukan lagi cinta.

Salatiga, 19 Agustus 2017

Cinta Bukan Tentang Kita

semacampuisi (2)

Nanti, saat kau dan aku dirundung sepi, kita akan mencoba membuka gulungan waktu dan memerinci satu demi satu peristiwa. Dan, sambil berharap tidak ada yang terlewatkan, kita berusaha menemukan kunci untuk mengeluarkan kembali sebuah kesenangan atau, untuk waktu yang lain, sebuah luka, meski cuma sebentar.

Cinta tak abadi — tanpa ketabahan kita, kau dan aku, dan semua manusia yang rela menanggung semua kesenangan dan luka-luka cinta. Kita ikhlas memberikan waktu sebanyak yang kita terima dari tangan waktu, bahkan pada waktu semua orang bersedia memberikan apapun untuk cinta, kecuali waktu.

Kau dan aku, kekasih, juga semua orang yang masih percaya pada cinta, kita menabur dengan tidak risau perihal tanah di mana benih itu nanti jatuh. Sebab sebagaimana kehidupan dapat dan akan selalu tumbuh dari kematian, demikian pula cinta. Ia akan hidup di mana pun.

Kasih, bila kau dan aku setuju bahwa bumi telah rusak dan yang ada hanya kengerian belaka, maka cinta adalah satu-satunya pintu yang terbuka untuk kita. Kau dan aku bisa saja pergi dan sembunyi. Namun, aku ingin percaya sekali lagi dan seterusnya percaya bahwa cinta bukan tentang kita, tetapi tentang apa yang harus kau dan aku perbuat dengan kekuatan sebesar itu.

* * *

Kepada Bibir Telaga

Pada sebuah tahi lalat di dadamu,
aku menemukan titik
bagi kalimat-kalimat panjang tentang rindu.
Berangkat dari dunia yang malang
dan dari usaha-usaha manusia
yang sementara dan sia-sia,
aku ingin segera tiba – dan membuat lagi
perjalanan pulang-pergi,
dari dadamu menuju dadamu.

Ingin kulalui bersamamu,
jalan-jalan yang pernah kita ketahui
juga semua mata jalan yang baru,
yang menuntun bibirku dan bibirmu
kepada bibir telaga.
Supaya di antara pepohonan
yang meluruhkan seluruh daunnya
dan berdiri begitu telajang, kau dan aku
adalah yang berbahagia, karena semua dahaga
yang sanggup kita tunda.

Salatiga, 27 Juli: 07.24

Kepada Malam Sesudah Sebuah Hati Dipatahkan

sesudah sebuah hati dipatahkan

“This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something.”
Elizabeth Gilbert (Eat, Pray, Love)

Kehidupan manusia hanya berisi dua hal: ketidakpastian dan ketidakpastian. Kehidupan adalah pertanyaan, tanpa tanda tanya. Seperti Tuhan, kau merasa begitu mengenalnya sekaligus merasa tidak tahu apa-apa tentangnya. Kau dan aku tinggal di dalam kehidupan yang demikian, tak pasti. Dan kita membicarakan hati di dalam ketidakpastian itu.

Ketidakpastian — atau kehidupan itu — akan mematahkan hatimu. Tak perduli seberapa hebat kau jaga hatimu itu. Sekali, dua kali, atau berkali-kali. Entah dalam urusan cinta atau apa saja. Dan, ketika kau berkata, “Aku sedang patah hati!” Pasti bukan liver yang kau maksudkan, melainkan satu titik tersembunyi atau ruang paling dalam dan rahasia di dirimu, yakni sebuah hati yang tak tampak, tetapi seolah-olah merupakan tempat segala rasa dan asa bersemayam, dan menjadi sedemikian nyata di dalam perasaanmu tentang hidup; dirimu, benda-benda, manusia lain, dan peristiwa-peristiwa, bahkan yang telah lama lewat: kenangan.

Hati — Di dalam hampir semua tradisi besar dunia, hati dialami dan dipahami sebagai inti sebuah pribadi, titik pusat di mana segala sesuatu yang dapat disebut sebagai kehidupan manusia tersimpan dan bergejolak. Hati adalah ruang maha semesta. Tak seorang pun, bahkan penyair, dapat mengukur seluas apa hati itu. Namun, hati pun kadang bisa menjadi sempit dan tertutup seperti sebuah kamar kecil dengan pintu dan jendela yang terkunci. Keluasan dan kepengapan hati sesungguhnya terletak pada keyakinan manusia tentang hidup. Sedangkan keyakinan manusia tentang hidup ditentukan oleh bagaimana ia memetik makna dari pengalaman-pengalaman atau peristiwa-peristiwa yang dialaminya.

Patah hati — karena apa pun — cenderung membuat kau surut, menutup pintu hati, dan sembunyi. Seolah-olah seluruh dunia dan semua manusia adalah jahat dan mematikan. Kau merasa tidak ada yang dapat kau percaya. Bahkan pada titik tertentu di dalam patahmu, Tuhan pun kau pertanyakan. Sebenarnya, itu kecenderungan yang manusiawi. Ketika berhadapan atau dikelilingi kegagalan atau kehilangan yang berujung lara. Seolah-olah tidak ada lagi yang bisa kau percaya. Inilah saat-saat di mana semua hal tampak mustahil untuk dimaknai, hampa, dan sia-sia.

Ketidakpastian — Sejak awal sudah kukatakan bahwa kehidupan telah sedemikian adanya. Tidak ada yang dapat manusia pastikan dari kehidupan. Dan jika tidak ada yang pasti, maka harapan adalah yang paling berbahaya sekaligus yang paling mungkin memberi kepada manusia, kepada kau dan aku, sebuah keberanian untuk menghadapi ketidakpastian. Di dalam ketidakpastian kehidupan, harapan bisa menjadi obat sekaligus racun. Barangkali kau pernah berharap dia membalas cintamu, tetapi kenyataannya dia membalas cinta seseorang yang lain. Kau menelan sendiri harapanmu yang tiba-tiba saja terasa bagitu pahit dan panas bagai bisa. Apa lagi yang bisa aku katakan tentang itu? Hidup memang demikian. Patah hati adalah biasa, dalam arti: kadang tak terhindarkan. Namun, apa yang hendak aku persoalkan adalah hatimu, hati kita. Sesudah patah, apakah kau berani berharap sekali lagi?

Aku percaya, terlepas dari semua peristiwa yang dialami, entah itu yang membuat bahagia atau yang mendukakan, kau dan aku dan semua manusia memiliki hati yang luas di mana semua lara dan luka dapat ditanggung dan diberi makna.  Inilah satu dari dua hal yang membuat aku berani berharap sekali lagi, dan sekali lagi, ketika patah hati. Sebab aku tak melihat ada jalan lain yang lebih baik dari ‘berharap sekali lagi’, meski tak selalu harus pada orang atau kisah yang sama.

Harapan tak boleh mati — harapan butuh makna. Aku percaya, bahwa kau dan aku adalah satu-satunya manusia yang paling bisa diandalkan untuk memberi kepada diri kita makna — dan dari situ akan datang kekuatan dan keberanian. Di dalam patah dan lara, sebuah kekecewaan yang gelap dan tak terkendali, manusia hanya punya dua pilihan: menolak atau menerima kenyataan. Bagiku, sekalipun pahit dan panas, terimalah apa yang nyata. Sebab di dalam penerimaan itu, kau dan aku belajar mengumpulkan segenap kekuatan untuk percaya bahwa kekayaan dari kebaikan hidup akan mengajari jari-jari kita untuk menyulam makna. Selama kau dan aku percaya pada adanya kebaikan, bahkan dalam masa-masa paling kelam, kebaikan yang kau dan aku percayai itu akan menolong kita untuk bergerak maju dan — dalam cara-cara yang semula tak terbayangkan — akan mengubah hidup kita.

Kehidupan mengisi dirinya dengan tak terbilang banyaknya ketidakpastian. Pengalaman demi pengalaman membuktikannya. Tak ada yang pasti. Di dalam semua yang tak pasti, manusia mengisi dirinya dengan dua hal: cinta dan takut. Manusia yang mengisi hatinya dengan ketakutan akan sedapat mungkin mengambil jarak dari kehidupan. Hatinya menjadi sempit dan ia terpenjara di dalamnya. “Jangan sampai patah hati (lagi),” begitu pikirmu. Namun, manusia yang mengisi hatinya dengan cinta akan berani menceburkan diri ke dalam hidup yang maha samudra. Hatinya akan cukup lapang untuk menanggung semua ketidakpastian termasuk, “Jangan-jangan patah lagi nanti.” Meski memang tidak ada jaminan bahwa kau dan aku akan mengalami hidup yang sesuai harapan, tetapi “Di dalam semua ketidakpastiani ini, adakah yang lebih baik dari memilih cinta atau jatuh cinta (lagi)?

Mencintai (lagi), lalu patah (lagi), dan tetap percaya kepada cinta, bagiku, adalah pengalaman sejati tentang hidup — dan sejatinya kehidupan manusia memang demikian.

____

Kosong

“Padaku ada pikiran, lengan, tenaga dan waktu, juga potongan-potongan kangkung dan harapan yang mungkin akan kita butuhkan untuk menciptakan kembali cinta yang dicabik-cabik dengan parang dan peluru.”(29).png

Beberapa orang seperti matahari; orang-orang membutuhkan mereka, namun tak pernah sekalipun berpikir untuk mendekat dan memeluk mereka. Beberapa orang lagi seperti beberapa kata yang menemukan bentuk; tambah yang menyusut jadi dua garis saling mengiris, cinta yang menjadi sebentuk hati, dan kosong yang menjadi tatapan matamu.

Gelap dan terang. Kesalahan selalu ditemukan bersamaan dengan ditemukannya kebenaran. Barangkali cinta juga begitu adanya; ditemukan saat kehilangan. Aku kehilangan diriku saat menemukanmu, dan rindu adalah menyatunya dua hal yang berlainan: kau ada sekaligus tiada. Gelap dan terang, kesalahan dan kebenaran, cinta dan rindu, semua hal yang berlainan, bertentangan, dan tak terpisahkan itu dapat kurangkumkan dalam satu kata saja: dirimu.

Tetapanmu yang kosong telah membawaku sedemikian jauh dari sisimu. Lalu kini aku kembali dengan tatapan yang sama sekali lain. Meski gelap yang sama masih kudapati mengambang di sana, namun serentak aku ingat, “Tak ada yang lebih berhak memiliki cahaya, selain kegelapan. Penghuni hari ini, selalu, adalah mereka yang membawa kemarin di dalam dirinya.”

Tatapan matamu bukan kosong. Aku ingin bertanya, “Apa yang memenjarakanmu di masa lalu?” Namun, itu hanya kulakukan di dalam kepala, seperti semua percakapan sebelumnya. Selalu aku dan aku, dan selalu tentang dirimu.

____