Tentang Cukup

semacampuisi(4)

Alam yang suci pada dirimu adalah satu-satunya dunia di mana aku dapat merasakan, untuk sejenak, sebuah kehidupan berlari tanpa dibuntuti kematian. Di setiap perhentian, kuisi penuh-penuh dadaku dengan satu helaan napas. Tak kucium bau kesedihan di dalam tiupan angin dari lembahmu yang sejuk. Hanya harum kayu putih yang memanggil bagai ibu.

Kuletakkan ke pangkuanmu, harapan-harapanku yang gugur bak buah pala. Darinya, tanahmu yang berembun memberikan hutan untukku. Malam tumbuh seperti pohon-pohon dekat mata air dan kau menunjukkan padaku hewan-hewan paling liar di benakmu. Sekali ini kudapati diriku seumpama bayi dan buah dadamu adalah bahasa ibu yang harus kupelajari.

Untuk sebuah kehidupan yang fana, kau telah menjadi semuanya. Teman yang nakal dan musuh yang jujur. Pagi yang riang dan terik siang di Maluku. Cukuplah bagiku detik-detik seperti pertama kali bisikmu menembusi kulitku — dengan kata yang hanya kita yang tahu. Kau adalah semua pelajaran tentang cukup.

WJ / Salatiga, 3 Oktober: 11.39 WIB.

Iklan

Pada Rahim Seorang Perempuan

semacampuisi(3)

Pada perempuan yang mengandung, aku melihat bentuk paling nyata dari “mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.” Takkan pernah kutemukan di mana pun juga, kesatuan paling sempurna antara seorang manusia dengan manusia yang lain, selain pada rahim seorang perempuan; pada rahim ibuku, di mana ada aku.

Pada ibu selalu ada cinta. Pernah kusebut, “Ia ada sebagai rindu.” Ibu adalah sungai doa dan harapan-harapan baik yang maha samudra. Aliran dan ombak-ombaknya tak putus datang. Rahimnya adalah semesta langit dan aku satu bintang kecil yang tertidur; suatu tempat seperti bumi sebelum disentuh tangan manusia, sedang aku adalah manusia pertama yang mukim di situ.

Ibu pernah segala-galanya dan selalu semesta bagiku. Segala kebaikan dari tanah dan kesetiaan gunung-gunung. Dan ibulah yang menunjukkan kepada kita, rahasia kehidupan; rahasia hari esok; kekuatan yang menggerakkan semesta, yang mengajari angin untuk berlari dan diam, yang menumbuhkan pohon sagu, dan yang memberi irama pada hidup dan degup jantung kita: cinta.


Ambon, 21 Desember 2015

Kepada Penaku Tinta dan Kepada Tintaku Cinta

semacampuisi

Aku harus berulang-ulang kali menulis puisi untuk memperdaya diriku sendiri supaya tak sampai hilang percayaku pada cinta. Aku harus berbicara lebih lembut dan menulis lebih keras dan kasar supaya aku mengantuk, tetapi tidak bisa berlama-lama di tempat tidur, sebab mencinta harus pula kuartikan sebagai melawan.

Cinta tidak boleh aku kotori dengan percintaan yang melulu tentang aku atau perihal aku dan kau belaka, sebab kita berdua hanya dua manusia yang baru menjadi manusia saat kita tidak menolak ketika cinta harus membawa langkah-langkah kita kepada penderitaan semua makhluk yang dikurung kesunyian.

Aku harus berulang-ulang kali menulis puisi untuk menemukan kata bagi kesunyian-kesunyian luka itu dan bagi diriku sendiri supaya aku tak sampai terpenjara dalam kematian yang kusangka kehidupan: tidak peduli lagi pada apa-apa yang tak sanggup kurasakan, karena tak sanggup kumengerti, dan yang tak sanggup kumengerti karena aku tak punya kata.

Aku harus berulang-ulang kali menulis puisi untuk bicara kepada diriku sendiri supaya aku tidak lupa bahwa dulu pernah kuputuskan untuk tidak bisa berhenti menulis puisi. Separuh pikiranku merasa aneh ketika separuh lainnya menyebut ini doa. Namun, inilah yang berkali-kali aku ulangi pada tengah malam seperti begini supaya aku tahu diri bahwa hidup bukan tentang diriku belaka.

Ya. Berilah kepada penaku tinta dan kepada tintaku cinta.

Aku percaya semua yang ada padaku bukan milikku sehingga, bagiku, memberi adalah memulangkan; biru kepada laut, hijau kepada gunung, sujud kepada tanah, hati kepada manusia, dan segala yang kusebut diriku kepada cinta sekekal batu seluas kehidupan.


Salatiga, 26 Agustus: 03.03

Tawar

semacampuisi (3)
Bahasa tanah dan tarian laut adalah cara cinta menuturkan dirinya. Hening dan amuk, tenggelam dan tumbuh, tinggal dan hanyut, apa adanya. Sebuah bahasa yang tak pernah sempurna, bila harus kujamah dengan lidahku yang terlalu manusia.

Aku, sesekali, tak sanggup untuk bedakan air mata dari mata air, juga pipimu dari tanah basah di Pangala dan Lisela. Dari situ, sungai-sungai pergi menemui laut. Selalu ada muara untuk merundingkan tawar hati dan asin air mata.

Namun, ada saat-saat di mana kecemasan kita tak miliki muara dan lubang udara, sehingga ada satu bagian dari hidup yang tetap keruh dan tak terurai. Cintaku yang kadang tak bisa aku bedakan dari benciku, juga kau yang tercinta dari yang terbenci.

Hati manusia, sejauh yang sanggup kau dan aku pelajari, bisa saja tercekat sengat, lalu kaku dan bisu, seperti paku dan batu, tetapi yang selalu ada di situ. Barangkali untuk sebuah luka lain atau nisan lain bagi sebuah kisah lain yang tak bisa lagi kita cintai, sebab bukan lagi cinta.

Salatiga, 19 Agustus 2017

Cinta Bukan Tentang Kita

semacampuisi (2)

Nanti, saat kau dan aku dirundung sepi, kita akan mencoba membuka gulungan waktu dan memerinci satu demi satu peristiwa. Dan, sambil berharap tidak ada yang terlewatkan, kita berusaha menemukan kunci untuk mengeluarkan kembali sebuah kesenangan atau, untuk waktu yang lain, sebuah luka, meski cuma sebentar.

Cinta tak abadi — tanpa ketabahan kita, kau dan aku, dan semua manusia yang rela menanggung semua kesenangan dan luka-luka cinta. Kita ikhlas memberikan waktu sebanyak yang kita terima dari tangan waktu, bahkan pada waktu semua orang bersedia memberikan apapun untuk cinta, kecuali waktu.

Kau dan aku, kekasih, juga semua orang yang masih percaya pada cinta, kita menabur dengan tidak risau perihal tanah di mana benih itu nanti jatuh. Sebab sebagaimana kehidupan dapat dan akan selalu tumbuh dari kematian, demikian pula cinta. Ia akan hidup di mana pun.

Kasih, bila kau dan aku setuju bahwa bumi telah rusak dan yang ada hanya kengerian belaka, maka cinta adalah satu-satunya pintu yang terbuka untuk kita. Kau dan aku bisa saja pergi dan sembunyi. Namun, aku ingin percaya sekali lagi dan seterusnya percaya bahwa cinta bukan tentang kita, tetapi tentang apa yang harus kau dan aku perbuat dengan kekuatan sebesar itu.

* * *