Hari-Hari Yang Dengannya Kau Berlari

Subuh itu mama mengeringkan seragam sekolah kita dengan kompor. Digantungnya kemeja, rok, dan celana itu tinggi-tinggi, dijaganya hingga kering, lalu disetrika. Dan kita akhirnya bisa berangkat ke sekolah dengan seragam yang bersih dan harum. Bergerak menembusi udara pagi yang dingin sambil berusaha untuk sedapat mungkin menghindarkan kaos kaki dan sepatu dari cipratan air hujan, setelah sebelumnya mengalahkan keengganan dan menyesap teh manis panas dan roti buatan tangannya.

Beberapa malam yang belum lama lewat, kita bicara tentang mama. Bagaimana ia mengatur belanja sehingga selalu ada santapan lezat untuk rasa lapar yang kita bawa pulang bersama buku-buku pelajaran dari sekolah. Begitu jauh kita dari siang-siang seperti itu. Siang-siang yang berlari teramat buru-buru, seperti kaki-kaki kita ketika bel sekolah dibunyikan pagi-pagi.

Bertahun-tahun lalu, harus kau ajari kaki-kakimu sendiri untuk mengenali jalan-jalan di kota yang semula tak kau kenali. Pergi jauh dari rumah dan semua yang kau sebut cinta. Tahun ini pun tak banyak yang berubah, hanya angka-angka yang dengannya usia kau hitung dan hari-hari yang dengannya kau berlari menuju rumah.

Di sana, kekasihmu menunggu. Di sana, jantung hati kalian. Di sana, semua yang rindu menunggu bagai gunung. Dan semua akan dimulai lagi, pagi-pagi, dengan sesuatu yang sejuk seperti embun atau hangat dan manis seperti sapuan gula cair di permukaan kulit roti panggang buatan mama.

Selamat hari jadi adikku tersayang, Herlin Venny Johannes

WJ / Bandung, 10 Desember 2017
Iklan

5 Puisi Natal

MALAM NATAL

usai doa jam dua belas malam,
ayahku dan alessandra, keponakanku
sama-sama menjadi anak kecil:

bermain bunga api di pekarangan.


Selamat Natal:

tidak ada yang istimewa hari ini, kecuali libur dan bersenang-senang atau minggir dari jam-jam kehidupan yang memang berisi rasa bosan belaka. Manusia memang tak terlalu jujur dengan manusia lain, sebab kejujuran seringkali mengecewakan, baik untuk dia yang mengatakannya maupun dia yang mendengarkannya –dan kalau hendak jujur, maka di antara lampu-lampu yang menyala, selalu saja ada ruang-ruang yang tetap tak tersinari; di antara lilin-lilin yang menyala selalu saja ada yang menjadi lelehannya, pula di antara lagu-lagu yang dinyanyikan dengan gegap gempita, ada nyanyian-nyanyian lirih yang digumamkan kesunyian entah di hati atau di mana, tetapi…

Selamat Natal:

manusia bukan palungan. palungan tak punya pilihan sementara hati bisa memilih baju apa untuk dipakainya pergi ke ibadah natal nanti. akan tetapi pada saat-saat natal dan musim hujan begini, kita sebenarnya tak punya banyak baju bersih untuk dipakai, selain sehelai kain lapuk bernama kesadaran semu yang menyala tak lebih lama dari cahaya kembang api, tetapi…

Selamat natal:

pohon terang yang bertebaran di mana-mana belum juga habis kau dan aku jumlahkan, ketika hari-hari libur membawa kita kembali kepada kebiasaan yang begitu-begitu saja dan kepada kesibukan yang tak terbilang jumlahnya, tetapi malam ini ada yang masih bisa kau dan aku sebut di dalam hati: nama-nama dari semua wajah yang kita sebut sebagai sahabat atau saudara, mereka yang terhapus, entah karena apa, dari sebuah album foto bernama kehidupan, meski itu tak juga membawa rasa puas dan bahagia, tetapi…

Selamat Natal


NELAYAN-NELAYAN DI PADANG GELOMBANG

nelayan-nelayan di padang gelombang bertanyalah kepada malaikat-malaikat yang datang. adakah lagu baru untuk orang-orang yang terbuang? sebab damai sejahtera masih dendang yang mengambang.

kemarin dulu kudengar zakaria mengeluhkan harga berobat yang selangit. kanker telah menyerang rahim elisabeth dan menggerogoti buah dadanya. mengapa tuhan yang satu itu memberi buah bagi rahim-rahim yang lain, sementara elisabeth hanya bisa mengandung kesedihan yang purba?

aku sendiri tak mengerti, mengapa yusuf membawa maria ke kota yang jauh hanya untuk mencari-cari pertolongan pada waktu melahirkan anak mereka. apakah di kampung ini tidak ada lagi rumah yang layak bagi mereka? tega ia melukai biang kampung yang dulu memotong tali pusarnya.

di langit desember, orang-orang dari timur belum menemukan bintang. lampu-lampu elektrik dan lilin-lilin mengambil nyala api dari mata mereka. angin membawa senyap tangis dari pulau-pulau di tanimbar dan aru. rahel sedang meratapi bayi-bayinya yang mati. di dadanya lara membadai.

hujan membasahi malam sebuah kota yang manis. bulir-bulirnya yang jatuh itu air mata untuk kepahitan yang mana? elisabeth dan rahimnya atau yusuf dan maria yang meninggalkan kampung? rahel dan bayi-bayinya yang mati ataukah tuhan yang tengah muram?

pilihkan satu untuk malam natalmu.


MENJADI KANAK-KANAK LAGI

lepas jam dua belas nanti
akan ada banyak sekali petasan

aku pikir
tuhan sedang mengajak kita
untuk lahir kembali, menjadi kanak-kanak lagi;
bermain, bertengkar, dan bermain kembali

berteman, bertengkar, dan berteman lagi

lepas jam dua belas nanti
akan ada banyak sekali kembang api

rasanya
tuhan memang mengajak kita
untuk lahir kembali,
menjadi kanak-kanak lagi:
tertawa, berduka, dan tertawa lagi
percaya, meragu, dan percaya lagi

lepas jam dua belas nanti
akan ada ribuan ucapan selamat hari jadi

aku tahu
tuhan memang tak perlu lahir lima ribu kali
demi mengingatkan kita pada hati kanak-kanak
yang pernah milik kita dan masih mungkin kita
miliki.


SELAMAT NATAL
(Terjemahan Seadanya)

selamat natal: selamat bersukacita
selamat natal: haram, jangan diucapkan
selamat natal: basa-basi saja
selamat natal: biar kelihatan toleran
selamat natal: hore! libur panjang
selamat natal: bangun kesiangan
selamat natal: pulang kampung
selamat natal: reuni, kumpul keluarga
selamat natal: kapan nikah?
selamat natal: rindu
selamat natal: tak bisa pulang
selamat natal: sunyi
selamat natal: makan-minum gratis
selamat natal: diskon, selamat berbelanja
selamat natal: hore! baju baru
selamat natal: pasang pohon terang
selamat natal: aha! mabuk gratis
selamat natal: sendiri
selamat natal: tak bisa di rumah
selamat natal: mama sudah tiada
selamat natal: bapa sudah tiada
selamat natal: rumah sakit
selamat natal: rumah tahanan
selamat natal: pesta kembang api
selamat natal: pacar baru
selamat natal: banyak sms
selamat natal: jaringan sibuk
selamat natal: update status
selamat natal: semoga bos ingat aku
selamat natal: tugas jaga
selamat natal: lembur
selamat natal: bukan apa-apa
selamat natal: kado mana, kado
selamat natal: konvoi sepeda motor
selamat natal: toko-toko tutup
selamat natal: dapur mati
selamat natal: makan di luar
selamat natal: tak ada apa-apa, kecuali ini
selamat natal: selamat natal

Puisi Itu Berjudul Indonesia

Ditulis dengan banyak sekali tinta
kadang tinta pengorbanan
yang tak pernah bisa hilang,
kadang tinta pemilu
yang pudar dan lekas hilang,
kadang tinta perlawanan
yang diam-diam coba dihilangkan
dan sesekali, tinta cap
untuk membenarkannya.

Puisi itu berjudul Indonesia
Ditulis dalam banyak sekali bahasa
kadang bahasa tanah seperti peluk
akar-akar pohon di badan batu,
kadang bahasa pesisir seperti pantai
kepada semua ombak yang datang,
kadang bahasa kaki gunung
yang takkan pernah beranjak,
kadang bahasa ibu seperti laut
kepada semua perahu.

Puisi itu berjudul Indonesia
Dibaca dengan banyak kacamata
kadang kacamata kusir
yang senang berdebat kusir
kadang kacamata kuda
yang mau lari bebas tanpa tujuan,
kadang kacamata pelaku
yang tak laku di layar kaca,
sesekali kacamata korban,
dan bila terik, kacamata hitam
milik sejarah sendiri.

Puisi itu berjudul Indonesia.
Tak usai ditulis, tak habis dibaca
tetapi bisa dikenali di wajah dan di kaca
saat kau tatapi semua yang bukan dirimu
dan dirimu sendiri.


WJ / Bandung, 09 November 2017

Seseorang

Kubawa padanya hati yang meski telah patah-patah, kuberi semua. Tak kusimpan sepenggal pun untuk diriku. Dia mengangguk pada ketelanjanganku, melilit aku dengan liat dua tangannya, dan menjulurkan kepadaku bisa dengan aroma dan panas yang hanya bisa diciptakan oleh matahari dan pulau Buru. Tetapi, seperti nasib semua orang yang pernah segalanya, dia pun kini hanya

seseorang
yang telah pergi dan membawa di dalam kepalanya lorong-lorong gelap menuju ruang tersembunyi di dalamku, kanal-kanal rahasia di mana aku mengalirkan kesedihanku, ruang bawah tanah tempat aku meramu alasan-alasan, dan sudut sunyi di mana semua luka aku jilati, seperti lilin menjilat-jilat tubuhnya sendiri dengan lidah-lidah api untuk

seseorang
yang telah pergi membawa bersamanya bekas-bekas lukaku di telapak tangannya, juga kisah-kisah dari buku yang belum ada. Kisah tentang ayah dan laut dan rimbanya, kisah tentang ibu dan roti dan sambalnya, kisah tentang aku dan sebuah dunia yang takkan pernah dimasukinya, lagi.


WJ / Salatiga, 16 Mei 2017

Senina

(untuk Tanah Karo)

Aku ingin lahir pada satu bulan paling terang
ketika semesta melukisi langit dengan bintang-bintang
dan manusia mengakhiri keletihan dengan nyanyian

Aku ingin tumbuh pada satu pagi paling diam
ketika semesta menulisi tanah dengan bebijian
sedang bunga dan manusia mewarnai kehidupan

Aku ingin kawin pada satu pancaroba paling mendidih
ketika semesta menggurati hati dengan gelora dan cinta
sehingga semua makhkuk menyebut semua makhluk saudara

Malang, 09 Agustus 2017: 17.06 WIB.